Prestasi tidaklah diukur
Dari hasil yang telah
Diraih.
dari setiap rintangan
Yang telah diatasi
SEBAIKNYA ANDA TAHU
A. Untuk Apa Belajar?
Untuk apa belajar? Adalah sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana. Namun, ibalik makna yang tersimpan di dalam pertanyaan itu sebenarnya tidaklah sesederhana yang di duga. Di dalamnya ada sesuatu yang berarti bagi siapapun yang ingin maju. Bagi mereka yang cinta dan rindu dengan kemajuan tentu saja mereka tidak akan pernah melupakan masalah belajar. Sebab mereka sadar bahwa hanya dengan belajarlah akan didapatkan kemajuan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini adalah sebagai bukti nyata dari keberhasilan para kaum terpelajar yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Mereka tidak pernah menghindarkan diri dari perbuatan belajar dan selalu belajar. Berbagai teori diciptakan. Muncul teori baru, ilmu pun bertambah. Teori lama dikoreksi dan di kritik, dan akhirnya ada diantara teori itu tumbang dan muncullah teori yang baru. Begitulah adanya. Itulah hasil daya cipta dan kreativitas orang-orang yang ingin maju dalam bidang ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, untukapa belajar? Jawabnya adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar tidak dikatakan sebagai orang bodoh. Kata “bodoh” sangat tidak enak didengar, bahkan sangat menyakitkan hati. Karena kata “bodoh sering diterjemahkan sebagai orang yang tidak atau kurang sekali dalam penguasaaan ilmu pengetahuan . “bodoh” adalah suatu kata yang sangat popular untuk menyudutkan orang pada derajat yang sangat rendah, walaupun derajatnya tidak serendah binatang dengan alas an manusia mempunyai kelebihan, yaitu “akal”. Dengan akallah manusia memberantas kebodohan. Dengan ilmulah akan tercipta nur yang terang dalam menatap masa depan.
Orang-orang bijak mengatakan bahwa dengan seni hidup menjadi indah, dengan itab suci hidup menjadi terarah, dan dengan ilmu ditaklukkan dunia. Dapat dibayangkan kehebatan ilmu menaklukkan dunia. Coba lihat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, jarak yang demikian jauhnya dapat ditempuh dalam waktu yang relative singkat. Pesatnya penemuan teknologi modern dapat menghadirkan di hadapan kita berbagai peristiwa di belahan bumi yang jauh disana lewat dunia perkomunikasian dan pertelekomunikasian. Dengan pesawat terbang, jarak yang sangat jauh bisa ditempuh dengan singkat. Itulah ilmu dan manfaatnya. Manfaat ilmu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang belajar tetapi juga oleh merka yang menggunakan teknologi itu. Mereka merasakan betapa lezatnyahakikat ilmu bagi kehidupan kini dan mendatang.
Dunia ini penuh misteri. Sebagian besar misteri dunia iniakan tersingkap dengan melakukan kegiatan belajar. Belajar untuk mendapatkan ilmu sama halnya berenang di lautan ilmu. Berenang di lautan ilmu berarti berenang mencari nur. Nur itu adalah cahaya. Ilmu adalah nur. Cahaya itu aadalah terang. Maka belajar untuk mencari ilmu sama halnya mencari cahaya. Dengan cahaya, dunia menjadi trang. Seandainya ilmu diumpamakan sebagai “matahari” yang menerangi jagad raya ini dan biasnya menembus relung-relung kegelapan, maka tidak ayal lagi bahwa ilmu adlah suatu kekuatan yang sangat ampuh untuk menghancurkan benteng kegelapan akal yang membelenggu dan memberantas kesempitan berpikir.
Orang-orang besar dengan kedudukan dan menempati posisi penting dalam kehidupan social di masyarakat, bermula dari kegiatan mereka yang tekun belajar menuntut ilmu. Berkat ilmu yang mereka miliki sesuai dengan bidang profesionalisme yang dikuasai, orang lain pun akhirnya menghargai keahliannya dengan memberikan kedudukan dan peranan yang penting. Mereka itu adalah orang-orang pintar karena belajar. Hanya mereka yang pintarlah, yang dapat bercita-cita mempunyai posisi penting di masyarakat, dan bukan orang yang bodoh. Betapa tingginya nilai ilmu. Oleh karena itu, dengan ilmu seseorang dapat menjauhkan diri dari kemiskinan, dengan ilmu seseorang dapat mengubah dirinya menjadi orang yang dihormati, dan dengan ilmu hidup tidak akan teromabng-ambing.
Namun, perlu dicamkan, ilmu tidak dating dengan sendirinya, tetapi ilmu harus dicari lewat sumbernya. Dunia ini adalah sumber ilmu. Maka bacalah segala sesuatu yang ada di dalamnya nanti akan ditemukan dan terkuak misteri hal-hal yang sangat berguna bagi kehidupan sepanjang masa.
Orang tua di zaman dulu, sekarang menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan sehingga mereka menyuruh anak-anaknya untuk bersekolah dari jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Kini mereka jarang sekali meminta anak-anak mereka terjun ke sawah untuk bercocok tanam tetapi mereka menyuruh anaknya untuk belajr agar menjadi orang pandai dan dapat menikmati hidup denga ilmu pengetahuan.
Betapa menderitanya orang-orang yang tidak berilmu akibat tidak pernah bersekolah. Penindasan-penindasan mereka rasakan dari mereka yang egois. Namun, apa yang hendak diperbuat tidak dapat dilakukan, karena ketiadaan ilmu. Sekiranya mereka bersekolah, pasti mereka tidak dibodohi dan ditipu oleh par penindas dan pemeras dan pengijon.
Kini sudahnya kebodohan harus disingkirkan dari sisi kehidupan. Belajarlah kuncinya. Belajar adalah kunci ke pintu gerbang ilmu. Pegenglah kunci itu, bukalah dan masuklah kedalamnya, nanti ditemukan keleluasaannya cakrawala ilmu. Jangan takut dan gentar akan keluasan dan kedalaman ilmu. Kejarlah ilmu itu dan jadikanlah sebagai sahabat karib, bukan malah memussuhinya. Memusuhi ilmu berarti menjadi sahabat kebodohan.
B. Apakah Anda Termasuk Orang Yang Ragu?
Ragu adalah suatu sikap yang menunjukkan ketidakpastian dalam pengambilan suatu keputusan. Sikap ini sebagai pertanda ketidakpercayaan pada kemampuan diri-sendiri. Ingin berbicara, ditunda, takut kalau-kalau apa yang akan diucapkan itu salah. Ingin mengambil keputusan tidak jadi karena taakut keputusan yang akan diambil itu salah. Walaupun sebenarnya apa yang akan dilakukannya itu adalah suatu kebenaran.
Ragu adalah suatu sikap yang dapat merugikan diri sendiri. Orang lain boleh jadi kurang percaya atas apa yang diutarakannya. Orang lain tidak akan meminta pendapat tentang sesuatu hal kepada orang yang selalu ragu dalam bertindak. Sikap ragu adalah sikap yang jauh dari optimistis. Sikap ini lebih dekat dengan pesimistis. Pesimistis adalah sifat kurang percaya pada diri sendiri. Orang yang pesimis biasanya lebih banyak bergantung pada pendapat orang lain. Ketika suatu keputusan atau tindakan yang diambil telah diputuskan dan akan dilaksanakan, sebelumnya dia meminta pertimbangan orang lain yang dia yakini dapat meyakinkan atas apa yang telah diputuskan.
Pesimistis tidak harus terjadi pada diri siapapun, apalagi bagi seorang pelajr atau mahasiswa. Sebab sifat itu akan meelahirkan sifat yang selalu ragu dalam bersikap dan berbuat. Padahal dlm belajar selalu ditemukan persoalan yang harus diputuskan dengan segera dan meyakinkan. Dlam menjawab soal-soal ujian misalnya seorang pelajar atau mahasiswa harus yakin pada diri dalam menjawabnya. Sekiranya ada keraguan, maka waktu yang teersedia akan terbuang dengan percuma dan pikiran pun akan tersita untuk menuntaskan keraguan dalam pengambilan keputusan.
Orang-orang yang sukses dalam studi, selalu menjauhkan sikap ragu dari dalam dirinya. Mereka percya kepada diri mereka sendiri. Apapun yang mereka putuskan mereka yakin bahwa hal itu adalah keputusan terakhir. Ketika orang lain menyuruh mereka untuk melakukan sesuatu maka mereka melakukannya tanpa ragu-ragu. Itu karena mereka yakin akan kemampuan diri mereka. Mereka membuktikn bahwa mereka memang mampu melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan tidak akan pernah merugikan, dan mengecewakan orang lain yang mempercayainya. Tentu saja keputusan untuk melakukan sesuatu itu berdasarkan pertimbangan yang matang dan disesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, bila memang tidak mampu melakukan sesuatu, keputusan juga harus diambil cepat dan akurat sehingga dapat mengambil langkah yang lain.
C. Bagaimana Meyakinkan Diri?
Di dunia ini bukan hanya orang-orang yang sempurna yang sukses dalam berkarya. orang-orang yang cacat pun sukses dalam berkarya. Mereka dapat mengatasi kekurangan dirinya dengan melihat kelebihan yang dimiliki. Mereka tidak pernah putus asa dan menyerah pada nasib akibat keadaan tubuh yang cacat yang mereka derita. Mereka yang cacat itu sukses dalam bidang-bidang tertentu misalnya di bidang seni suara, pendidikan, kebudayaan, seni lukis, politik dan sebagainya.
Kenapa mereka bisa sukses dalam bidang-bidang tertentu? Jawabnya mereka yakin pada diri sendiri, mereka tidak ingin membebani orang lain. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka juga dapat berbuat seperti orang lain hasilkan. Cukup banyak karya-karya besar yang dihasilkan oleh kelompok mereka ini dan sangat berguna bagi kemajuan bersama dan negaranya. Hal ini berarti bahwa kecacatan tubuh seseorang tidak dapat merintangi dalam meraih prestasi yang gemilang.
Sebaliknya, cukup banyak orang-orang yang sempurna menemui kegagalan dalam meraih sukses. Kegagalan-kegagalan selalu ditemui. Belum banyak berbuat sudah berputus asa. Cepat merasa puas sebelum menemukan hasil. Pekerjaan yang satu belum selesai sudah dialihkan ke pekerjaan yang lain. Belum berbuat sudah mengatakan tidak mampu. Harapan akan meraih cita-cita hanya tinggal kenangan karena kehilangan kepercayaan diri.
Sebaiknya jangan mencap diri-sendiri sedini mungkin sebagai orang yang gagal. Symbol-simbol seperti itu sama halnya dengan mencap diri tidak punya keyakinan. Bangkitlah dari kegagalan dan katakana bahwa hal itu bukan kegagalan tetapi kesuksesan yang tertunda. Yang tertunda bukan berarti gagal, tetapi akan didapatkan pada kesempatan lain. Dengan sikap seperti ini diharapkan timbul keyakinan pada diri sendiri untuk dapat meraih sukses di masa mendatang.
Orang-orang yang sukses dalam bidang tertentu Karena menggantungkan harapannya pada keyakinan diri sehingga dapat menimbulkan suatu kekuatan yang maha dashyat, yang menjadi pendorong tiada tara. Perjuangan dan pengorbanan mereka relakan demi cita-cita. Lihatlah para pemain bulu tangkis, kesebelasan sepak bola, pemain tennis meja, pemain catur, para petinju, dan perlombaan kendaraan bermotor dalam berbagai jenisnya, mereka menjadi sang juara. Modal mereka bukan emas atau berlian tetapi karena memiliki mental sang juara. Inilah sikap mental yang positif yang bermuara pada keyakinan diri-sendiri.
Seandainya Anda adalah pelajar atau mahasiswa sebaiknya miliki sikap mental “sang Cendekiawan”. Sehingga dalam diri Anda sudah bersemayam sifat optimism yangmelandasi munculnya keyakinan diri. Ini sangat penting sebab semua sikap dan perbuatan Anda nantinya akan diwarnai sifat optimism. Kalau begitu pesimistis akan bermuara pada keraguan sedngkan optimistis akan bermuara ppada keyakinan. Ragu berarti selangkah mundur kebelakang, yakin berarti dua langkah ke depan. Ingin sukses tanamkan optimistis dalam diri dan tinggalkan pesimistis.
D. Di Mana Rahasia Belajar.
Sukses adalah suatu kata yang menganduung makna keberhasilan dalam melaksanakan sesuatu. Kata sukses mampu membuat seseorang ceria dan penuh kebanggan. Segala duka tersisihkan untuk menikmati kesuksesan yang di dapat. Rayaan penyambutan dilaksanakan, tidak hanya yang bersifat sederhana, tetapi juga yang bersifat bermegah-megahan. Orang lain berdatangan mengucapkan selamat atas kesuksesan yang di ukir. Siapakah yang tidakbangga ketika kesuksesan yang hadir mengangkat harga diri dan boleh menjadi mengharumkan nama baik keluarga.
Kebanggaan dan ucapan selamat memang patut diterima oleh seseorang yang telah sukses mengukir prestasi. Karena siapapun sudah merasakan betapa sukranya meraih sukses. Seseorang harus berjuang dan berkorban untuk mencapainya. Tenaga dikerahkan, pikiran dikeluarkan dan sejumlah materi berupa uang dihabiskan. Suka dan duka, pahit dan getir merupakan serentetan peerasaan yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menggapai sukses.
Sebaliknya, cukup banyak orang yang sedih dan berputus asa hanya karena kata “sukses”. Sukseslah yang menyebabkan mereka berduka. Bertahun-tahun mereka berjuang dan berkorban, tetapi selalu kegagalan yang dirasakan. Pahit rasanya bila kegagalan demi kegagalan yang dirasakan. Sukses yang didapat belum diraih dan kegagalan yang hadir membawa duka.
Dlam belajar, kata sukses juga merupakan dambaan bagi pelajar atau mahasiswa. Mereka tidak ingin gagal dalam belajar sehingga berjuang dan berkorban sekuat tenaganya. Harta benda dan perasaan mereka persiapkan untuk membuktikan pengorbanan. Kata pejuangan dan pengorbanan menyatu dalam upaya meraih sukses dalam belajar. Namun sayangnya, kata gagal dan sukses selalu hadir di belantika kehidupan pelajar atau mahasiswa. Ada yang sukses belajar dan ada pula yang gagal belajar. Mereka yang sukses dalam belajar merasa bahagia dan berusaha mempertahankannya. Mereka yang gagal merasa kecewa dan nyaris kehilangan kepercayaan diri.