Kereta api zaman Belanda
“Ada yang belum pernah naek kereta api nggak???”
Bagi teman-teman yang blum pernah atau pun sudah pernah naek kereta api, saya mau menceritakan pengalaman pertama saya naek kereta api. Saya tinggal di salah satu kota di Medan, saya kuliah di salah satu PTN di Medan. Suatu hari saya dan teman kelompok saya dapat tugas dari dosen mata kuliah seminar yang membahas mengenai sejarah perkeretaapian di Medan. Kami disuruh mencari data-data mengenai kereta api pertama sampai sekarang di Medan. “wah, sungguh tugas yang sulit bukan?” tapi demi kelancaran kuliah dan demi nilai “A” kami berusaha untuk mencari data-data tersebut. Kami mencari bukunya ke BWS (Badab Warisan Sumatra), trus kami mendatangi kantor PT. KAI di jl.A.Yamin, disana kami wawancara sedikit mengenai perkeretaapian di medan setelah itu kami pergi ke lapangan.
Pertama saya naek kereta api adalah dari Brayan. Awalnya saya dan teman-teman tidak berniat untuk naek kereta api, namun karena ditawari oleh salah seorang petugas kereta api yang ada di sana di tambah tarifnya yang sangat murah akhirnya kami sepakat untuk naek kertapi tersebut. Kereta api yang kami naiki adalah kereta api “Sri Lelawangsa”. Kami berangkat dari Medan menuju Belawan. Ternyata untuk sampai ke Belawan kita harus melewati Stasiun Titi Papan dan Stasiun Labuan. Kereta api selalu berhenti di setiap stasiun, namun peminat kertapi dari Medan Ke Belawan sangat minim. Tapi untung juga bagi saya waktu itu karena dengan begitu saya dan teman-teman saya, kami bisa bebas jalan-jalan di dalam kertapi tanpa perlu desak-desakan dan rebutan tempat duduk. Di dalam kertapi kami bisa berfoto-foto sambil ketawa-ketawa. Saya yang baru pertama naek kertapi merasa sangat nyaman dan santai. Memang kereta apinya lumayan bagus dan bersih, Cuma kaca kertapinya banyak yg sudah rusak sepertinya bekas lemparan batu.
Di dalam kertapi kami berbincang-bincang dengan petugas yang mengumpulkan tiket. Beliau sudah Nampak tua mungkin kalau tidak salah umurnya sudah 60-an. Namanya adalah Soebardjo. Dia lebih senang dipanggil “oppung”, dia sangat ramah, baik dan slalu tersenyum. Dia mengatakan bahwa dulunya kereta api tuh dibawa oleh bangsa Belanda. Dan rel-rel pertama itu terbuat dari papan bukan besi seperti yang kita lihat sekarang. Kereta api dulu juga tidak seperti kereta api sekarang. Dulu kertapi berbahan bakar kayu, sehingga disebut namanya kereta api uap karena kayu itu dibakar kemudian di siram pakai air. Nah, uapnya itulah yang menggerakkan kereta api tersebut. Kalau sekarang kereta api yang banyak kita lihat adalah kertapi yang berbahan bakar diesel. Suara kereta api dulu sangat khas yaitu zus zus zus…. Tapi ketika kami Tanya sama oppung subardjo apa di Medan masih ada kereta api yang zus zus zus itu, beliau menjawab bahwa kereta api itu sudah tidak ada lagi dipakai di Medan. Karena kami terus menanyai oppung itu, beliau akhirnya menyarankan kami agar mencari informasi sama kawannya saja yang disebutnya oppung Pasaribu, katanya beliau inilah yang banyak mengetahui informasi mengenai kertapi di Medan, namun beliau sudah lama pensiun. Tapi ketika kami Tanya alamatnya, Oppung Subardjo kurang tahu. Dia hanya menyebutkan kalau Oppung Pasaribu itu tinggal di Tanjung Morawa.
Setelah kira-kira setengah jam, kami sampai di Belawan. Stasiun ini cukup besar dan sangat ramai dibandingkan tiga stasiun yang kami lewati. Di stasiun ini kami berhenti, dan para penumpang yang sudah menunggu di stasiun langsung berebutan masuk dan mengambil tempat duduknya masing-masing. Saya dan teman-teman saya turun sebentar, kami menyempatkan diri untuk beli makanan karna kami sudah lapar dan haus. Kami juga sempat berfoto di depan stasiun bersama Oppung Soebardjo. Setelah itu kami mengambil tiket dengan tujuan Belawan-Medan. Tarifnya hanya Rp 6000 per orang. Setelah itu kami masuk ke dalam kereta api. Ternyata semua sudah padat, hanya beberapa kursi yang tersisa. Terpaksa kami harus berpencar-pencar agar bisa duduk. Ada juga teman saya yang ga dapat tempat duduk, sehingga dia harus rela berdiri. “Duh, kasian sekali kawanku apalagi dia dah lapar waktu itu”. Situasi saat itu beda jauh waktu kami dari Brayan ke Belawan. Kali ini penumpangnya cukup banyak mulai dari anak-anak, remaja dan bapak-bapak dan ibu-ibu. Suasana dalam kereta jadi riuh, anak-anak berlari-lari sambil teriak-teriak, ibu-ibu juga bercerita-cerita sambil sesekali tertawa. Saya hanya bisa memandangi alam dari jendela sambil sesekali melirik teman-teman saya.
Setelah sampai di Medan, semua mengemasi barang-barangnya masing-masing. Tak berapa lama setelah penumpang yang dari Belawan sudah turun, penumpang yang mau ke Binjai langsung masuk lagi, padahal kereta baru berangkat setengah jam lagi. Saya dan teman-teman sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Binjai. Dua orang teman saya langsung pergi beli tiket, saya dan beberapa orang teman saya langsung mengambil beberapa tempat duduk, takut tidak kebagian. Suasana di Stasiun Medan jauh berbeda dengan di Stasiun-stasiun lainnya. Mungkin karna stasiun medan merupakan stasiun pusat. Di stasiun ini terdapat banyak kereta api, penumpang yang lalu lalang juga sangat banyak. Di stasiun ini banyak pedagang-pedagang keliling yang menjajakan makanan seperti gorengan, pecal, air minum, sate dan masih banyak lagi. Saat itu seorang ibu penjual gorengan dan telor puyuh menawari jualannya kepada kami, lalu teman saya menanyakan harganya, lalu ibu itu ngasi tahu harganya. Teman saya lalu menawarnya ibu itu langsung merepet sama teman saya itu. Kami lalu terdiam dan teman saya itu tidak jadi membeli gorengannya. Setelah ibu itu pergi, kami lalu tertawa sama-sama.
Tidak berapa lama kemudian kereta siap-siap berangkat ke Binjai. Semua penumpang masuk ke kereta dan pintu kemudian di tutup. Kami duduk dengan tenang sambil melirik satu sama lain kemudian tersenyum. Saya yang duduk di dekat jendela kemudian berdiri dan buka jaket karena suhu cukup panas. Ketika kereta melaju seorang dari teman saya bicara “kita kok ke Belawan lagi? Seharusnya kan kita ganti kereta.” Kami terdiam dan saling berpandangan. Kereta api yang kami naiki memang sepertinya mau ke arah belawan. Kami pun jadi panic, namanya juga baru pertama naik kereta api. Seorang lalu bertanya sama penumpang lain, penumpang itu menjelaskan memang jalurnya agak sama tapi nanti akan membelok ke rel yang lain. Ternyata kami ga salah kereta. Kami pun lega dan tertawa bersama. Teman kami itu juga ikut tersenyum dan agak malu. Di perjalanan menuju Binjai kami bercerita-cerita. Saya dan salah satu teman saya berdiri dekat jendela sambil memandangi keluar. Kami sesekali tertawa melihat seorang dari teman kami yang menggodai petugas yang mengutip karcis. Sebagian teman kami juga ada yang ketiduran, mungkin dan pada capek.
Tak terasa kereta sudah tiba di Binjai, penumpang berhamburan keluar. Kami juga ikut, saya dan teman-teman sudah lapar, kami lalu pergi beli makanan dan air minum. Setelah itu kami sempat berfoto bersama para petugas kertapi yang disana. Lumayan ganteng-ganteng lho…. Kira-kira setengah jam kereta sudah harus berangkat ke Medan kami pun naik dan ternyata kami tidak dapat tempat duduk lagi. Untungnya ada seorang anak kecil yang mau berbagi tempat duduk pada saya walaupun sangat minim. Namun tak berapa lama ia pergi sama ibunya dan akhirnya saya bisa duduk dengan bagus. Di perjalanan saya merasa ngantuk sekali, badan saya cpek sekali dan tak terasa saya tertidur sampai ke Medan. Hari itu saya merasa sangat puas keliling-keliling dengan kereta api.